Peristiwa

Pembunuh Polisi Ditembak 107 Kali Tidak Mempan, Baru Tumbang Saat Cincinnya Dilepas

Gorontalo,WawasanRiau.com - Di awal tahun 2000-an, tanah Gorontalo diguncang oleh sebuah peristiwa yang kelak menjadi legenda urban di dunia kriminal Indonesia. Ini bukan sekadar kisah kejahatan biasa, melainkan sebuah konfrontasi mematikan di mana logika peluru tajam dipaksa berhadapan dengan keyakinan mistis. Inilah kisah Tarzan, sang penjahat kebal yang menantang maut.

I. Utang Berdarah

Segalanya bermula dari masalah yang sangat duniawi: uang sebesar Rp2.000.000.

Tarzan, seorang warga sipil yang dikenal bertemperamen keras dan disegani di lingkungannya, memiliki utang kepada seorang kenalannya. Upaya penagihan biasa tak mempan, hingga akhirnya sang pemberi utang meminta bantuan seorang aparat kepolisian berpangkat Brigadir untuk menemaninya menagih ke rumah Tarzan.

Niat awal kedatangan itu hanyalah mediasi dan penekanan agar utang dibayar. Namun, bagi Tarzan, kedatangan polisi ke rumahnya dianggap sebagai penghinaan. Ego dan amarahnya meledak. Bukannya membayar, Tarzan justru mencabut parang/golok andalannya. Tanpa peringatan, ia menyerang sang Brigadir secara brutal. Sang polisi gugur dalam tugas, tewas akibat sabetan senjata tajam hanya karena sengketa uang dua juta rupiah.

Tindakan nekat ini seketika mengubah status Tarzan: dari pengutang bandel menjadi pembunuh aparat yang paling dicari.

II. Pengepungan yang Tak Masuk Akal

Setelah kejadian itu, Tarzan melarikan diri dan membarikade dirinya di sebuah rumah panggung kayu khas warga setempat. Polisi merespons dengan cepat. Status "Siaga 1" ditetapkan. Pasukan gabungan dikerahkan untuk mengepung rumah tersebut. Negosiasi gagal, dan perintah penindakan tegas pun turun. Suara tembakan mulai memecah keheningan. Polisi memuntahkan timah panas ke arah persembunyian Tarzan.

Di sinilah keganjilan terjadi. Laporan lapangan mencatat setidaknya 107 butir peluru gabungan dari pistol hingga laras panjang telah ditembakkan. Secara logika balistik, tubuh manusia seharusnya hancur. Namun, Tarzan justru keluar ke beranda rumah dengan jumawa. Ia menepuk-nepuk dadanya, berteriak, dan menantang polisi untuk menembaknya lagi.

Saksi mata dan aparat dibuat ternganga. Peluru-peluru itu dikabarkan "mental", jatuh penyok setelah menghantam kulitnya, atau hanya merobek bajunya tanpa melukai dagingnya sedikit pun. Mental aparat sempat jatuh; mereka menghadapi musuh yang secara teknis "tidak bisa mati".

III. Intelijen Klenik

Menyadari bahwa senjata api standar tidak berdaya, komandan lapangan memutar strategi. Pendekatan militer dihentikan sejenak, digantikan oleh pendekatan intelijen budaya. Polisi mencari tahu: Apa yang melindungi pria ini?

Melalui informasi dari tetua adat dan orang yang mengenal Tarzan, rahasia itu terkuak. Kekuatan Tarzan bukan berasal dari darah dagingnya, melainkan dari sebuah benda eksternal: Cincin Mustika yang melingkar di jari tangannya.

Konon, selama cincin itu melekat, tubuhnya dilindungi perisai gaib. Titik lemahnya telah ditemukan. Jika cincin itu lepas, ia hanyalah manusia biasa.

IV. Satu Tembakan Pengakhir

Informasi ini mengubah aturan main (Rules of Engagement). Polisi mengerahkan penembak jitu (sniper) dari satuan Brimob. Instruksinya sangat spesifik dan sulit: "Jangan tembak badan atau kepala. Tembak jarinya." Suasana mencekam. Sniper membidik dari kejauhan, menahan napas, menunggu momen di mana tangan Tarzan yang sedang sibuk menantang itu terlihat jelas di lensa bidik.

Dorr!

Satu peluru presisi melesat. Tembakan itu tidak meleset. Proyektil menghantam telak jari tangan Tarzan, menghancurkan jari sekaligus melepaskan cincin sakti tersebut dari tubuhnya.

Efeknya instan. Wajah Tarzan berubah pucat menahan sakit rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan selama pengepungan. Perisai gaibnya runtuh seketika. Melihat target sudah netral dari kekuatan mistisnya, tembakan susulan dilepaskan. Kali ini, peluru tidak lagi mental. Tubuh Tarzan ditembus timah panas, dan ia pun roboh bersimbah darah. Sang legenda kebal itu tewas di tempat.

V. Warisan Sejarah

Secara hukum, kasus ini ditutup (SP3) karena tersangka meninggal dunia. Namun, jejaknya abadi. Video amatir pengepungan tersebut masih beredar di internet, menjadi bukti otentik betapa aparat kepolisian Indonesia pernah menghadapi situasi di ambang batas nalar. Bagi masyarakat Gorontalo, kisah ini menjadi urban legend yang diceritakan turun-temurun.

VI. Refleksi

Dari kisah Tarzan ini kita bisa menyimpan banyak kebijaksanaan tentang bagaimana manusia sering terjebak pada ilusi kekuatan. Tarzan merasa dirinya seperti “Tuhan” karena sebuah cincin, seolah kebal dan berada di atas hukum apa pun. Ia lupa bahwa kekuatan itu bukan berasal dari dirinya, melainkan hanya titipan dari sebuah benda mati. Ketika benda itu hilang, yang tersisa hanyalah manusia biasa dengan tubuh rapuh dan rasa sakit yang tak terhindarkan.

Kisah ini juga memperlihatkan betapa mahalnya harga sebuah ego. Nyawa melayang sia-sia hanya karena emosi sesaat dalam persoalan utang piutang yang seharusnya bisa diselesaikan dengan akal sehat. Ketidakmampuan mengendalikan amarah saat didatangi polisi menjadi awal dari rangkaian keputusan fatal yang akhirnya menutup hidupnya sendiri.

Pada akhirnya, hukum alam kembali menunjukkan dirinya: di atas langit masih ada langit. Sehebat apa pun pertahanan seseorang, selalu ada celah dan batas yang tak bisa dilampaui. Kesombongan Tarzan yang menantang maut justru membuka jalan bagi kehancurannya, membuktikan bahwa tidak ada kekuatan yang benar-benar mutlak.**


[Ikuti Wawasanriau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar