MENU TUTUP

Mengapa Etnis Rohingya Begitu Dibenci di Myanmar?

Sabtu, 09 September 2017 | 16:39:49 WIB
Mengapa Etnis Rohingya Begitu Dibenci di Myanmar? Pengungsi Rohingya

JAKARTA - Meski konflik kekerasan yang dialami etnis Rohingya terus terjadi, namun asal muasal etnis minoritas di Myanmar terus dipertanyakan. Pengamat Internasional, Arya Sandhiyudha memaparkan enam fase interaksi antara Myanmar dengan etnis Rohingya.

Arya Sandhiyudha mengatakan, pada fase pertama, Rohingya disebut sudah datang ke Myanmar sejak abad ke 7 sampai tahun 1785. Saat itu kata dia Arakan adalah milik Rohingya secara minoritas. Kemudian pada fase kedua 1785 hingga 1825, orang-orang Burma hadir dan mulai menerapkan pengusiran terhadap etnis Rohingya.

“Jadi jika ditanya dari mana mereka berasal, memang dari Rakhine. Pada fase kedua, meski tidak ada istilah genosida (pemusnahan), namun sudah dipraktekkan. Pada saat itu Rohingya terusir ke Bangladesh,” kata Arya dalam diskusi Redbons, Bencana Kemanusiaan Rohingya & Solidaritas Muslim ASEAN di Kantor Redaksi Okezone, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (7/9/2017).

Pada fase selanjutnya ialah saat penjajahan Inggris (1826 -1948). Saat itu Inggris menghadirkan orang-orang di wilayah jajahannya yang lain. Dan mereka memilih etnis Rohingya untuk masuk membantu Inggris di Myanmar. Pada saat itu penduduk mulai menanamkan pendidikan kepada genarasinya terhadap Rohingya.

“Dan di sini (fase ketiga) pendidikan di Myanmar mulai membangun persepsi bahwa warga etnis Rohingya adalah sekutu Inggris yang melakukan konfrontasi ke penduduk Myanmar asli. Dan ini mengakibatkan perlawanan (penduduk Myanmar) karena sudah dibangun sejak kecil,” jelasnya.

Dikatakan Arya, fase keempat adalah bagian yang jarang diceritakan (1948-1970). Yakni saat Myanmar dan etnis Rohingya memasuki masa-masa bulan madu. Maksudnya tidak ada ketegangan apapun baik secara pemerintahan maupun antar suku di Myanmar. Etnis minoritas itu juga diakui secara regulasi negara.

Namun perkara baru mulai muncul di fase kelima (1970-1980). Ketika itu junta militer mulai melakukan serangkaian kekerasan terhadap etnis Rohingya. Disamping itu militer juga berlaku diskriminasi dan persekusi terhadap etnis minoritas tersebut. Dan di fase terakhir 1982, mereka resmi dianggap sebagai penduduk illegal.

Konflik kekerasan yang dialami etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar kembali terjadi sejak akhir Agustus 2017 lalu. Setidaknya 100 ribu lebih masyarakat etnis tersebut terpaksa menyelamatkan diri ke Bangladesh dan 400 orang tewas akibat serangan dari junta militer Myanmar.

(kha/okezone)

Berita Terkait

Hadi Poernomo Dapat Tanda Kehormatan dari Jokowi, Ini Kata Ryamizard

Penyelundupan 50 Kg Sabu Digagalkan Selama 3 Hari

Hujan Badai Terjang Pesisir Bima NTB, 14 Kapal Nelayan Rusak

Mendagri Minta Jajarannya Dukung Transformasi dan Arah Kebijakan Presiden

Sehari Setelah Ledakan di Thamrin, Starbucks di GI Kembali Beroperasi

TULIS KOMENTAR
TERPOPULER +
1

Polres Rohil Perkuat Integritas dan Nasionalisme Lewat Ngaji Kebangsaan

2

DPRD Rohil Gelar Paripurna Raperda Perubahan APBD Tahun 2026

3

Daftar Lengkap 21 Pejabat Pemkab Rohil yang Baru Dilantik Bupati H. Bistamam

4

Polres Rohil tindak tegas Illegalloging di Sinaboi, 2 Tersangka Diamankan, Ratusan Batang Kayu Disit

5

Forum Media Daerah Rohil Resmi Surati DPRD, Desak RDP Soal Anggaran Kerjasama Media

6

Tingkatkan Stok Darah Pasien, PHR dan PMI Rohil Gelar Aksi Kemanusiaan

7

Tanam Pohon Trembesi di Sungai Bakau, Polsek Sinaboi Gencarkan Green Policing

8

Pamit ke Camat dan Pemdes, Mahasiswa KKN STAI Ar-Ridho Akhiri Masa Pengabdian di Sinaboi

9

Media Lokal Rohil Soroti Kemitraan Publikasi, Pemkab dan DPRD Diminta Buka Ruang Dialog

10

Hadir di Malam Puncak Haul ke-80, Dr. Maliki Ikuti Rangkaian Peringatan Syekh Oesman Syahbuddin