MENU TUTUP

Proyek Kilang Pertamina Molor, RI Batal Swasembada BBM di 2023

Rabu, 07 Juni 2017 | 15:34:19 WIB
Proyek Kilang Pertamina Molor, RI Batal Swasembada BBM di 2023 ilustrasi

JAKARTA,WAWASANRIAU.COM - Mimpi Indonesia terbebas dari impor bahan bakar minyak (BBM) pada 2023 pupus sudah. PT Pertamina (Persero) mengulur target penyelesaian proyek-proyek kilang yang dikerjakannya. Semua proyek kilang tadinya ditarget rampung pada 2023, tapi sekarang tiap proyek mundur 1-2 tahun.

Saat ini Pertamina tengah menjalankan 4 proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) alias modifikasi kilang Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai. Selain itu ada 2 proyek Grass Root Refinery (GRR) atau pembangunan kilang baru di Tuban dan Bontang.

Tiap proyek RDMP membutuhkan biaya investasi kurang lebih sebesar US$ 5 miliar atau Rp 65 triliun, sedangkan 1 proyek GRR nilainya sekitar US$ 12,5 miliar alias Rp 162,5 triliun. Artinya semua proyek itu memakan biaya US$ 45 miliar atau Rp 585 triliun.

Kemampuan keuangan Pertamina ternyata tak cukup kuat untuk menggenjot proyek-proyek kilang selesai di 2023, meski sudah bermitra dengan Rosneft di GRR Tuban dan Saudi Aramco di RDMP Cilacap. Itulah sebabnya proyek diulur, supaya beban keuangan Pertamina tak terlalu berat.

Di sisi lain, konsumsi BBM masyarakat terus naik tiap tahun. Dampaknya, impor BBM akan membengkak selama kilang belum selesai.

"Jika proyek kilang mundur tentu akan memerlukan tambahan impor selama periode kemundurannya tersebut," kata Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, kepada detikFinance, Rabu (7/6/2017).

Komaidi menambahkan, Pertamina harus mencari BBM murah untuk menutup pembengkakan impor akibat mundurnya target operasi kilang.

"Ini perlu dilakukan perencanaan bagaimana impornya bisa murah selama proyek-proyek kilang belum selesai," tukasnya.

Agar proyek-proyek kilang bisa terus berjalan lancar, Komaidi menyarankan porsi kepemilikan swasta diperbesar. Saat ini kepemilikan masih didominasi Pertamina. Di RDMP Balikpapan misalnya, Pertamina memegang 100% saham yang artinya juga menanggung sendiri semua risiko dan biaya investasi.

Di GRR Tuban yang dikerjasamakan dengan Rosneft dan RDMP Cilacap bersama Saudi Aramco, Pertamina juga masih menjadi pemegang saham mayoritas. Perlu dipertimbangkan untuk mengurangi porsi saham Pertamina.

"Itu salah satu ide yang perlu dipertimbangkan. Tapi bagaimanapun kilang merupakan cabang produksi strategis yang harus dikontrol negara. Jadi kontrol pemerintah atau Pertamina dalam operasionalnya harus tetap ada," pungkasnya.

sumber:detik.com

Berita Terkait

Istana Pastikan Draf Revisi UU KPK dari Pemerintah Banyak Ubah Versi DPR

Kubu Prabowo Angkat Bicara: Mayoritas Tokoh di Kubu 01 Berkasus

Bus Tabrak Truk di Banyuasin Sumsel, 3 Orang Tewas

Hadiri RDP dengan Komisi II DPR RI, Wamendagri Ribka Beberkan Perkembangan 4 DOB Papua

Mau Jadi PNS Lewat IPDN, Ini Syaratnya...

TULIS KOMENTAR
TERPOPULER +
1

Kronilogi Penganiayaan Pelajar MTS Hingga Tewas oleh Oknum Polisi

2

Wow! Ternyata Gubernur Dapet Bonus 1,7 Miliar Per Bulan Dari Pajak Kendaraan

3

Ironi di Riau, Barang Bukti Kasus Korupsi Malah Dikorupsi Lagi

4

Kecanduan Film Porno, Seorang Pria Bunuh Bocah Perempuan Lalu Perkosa Jasadnya

5

Disidang, Roy Suryo Sebut Ijazah Jokowi Yang Beredar 99 Persen Palsu

6

Hati-hati Modus Gerebek Mesum OTK di Pekanbaru Peras dan Rampas Mobil

7

Jejak Kasus Oknum Polisi Cabuli ABG Berdalih Tindak Pelanggar Lalu Lintas

8

Di Balik Surat BEM UGM untuk UNICEF: Nyawa Seharga Buku Tulis dan Teror yang Mengintai

9

Oknum Guru PPPK Diduga Selingkuh di Rumah Sendiri, Digerebek Suami dan Warga

10

Suport Atensi Kapolres Basmi Bali & Kenalpot Brong Demi Kenyamanan Masyarakat Jelang Ramadhan, " Ini