Hukrim

Lima Pemuda Dihukum Mati PN Pangakalan

poto ilustrasi

Jakarta, wawasanriau -- Lima pemuda asal Kwanyar Barat, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, serentak dihukum mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan. Bahkan untuk kasasi salah satu di antaranya juga gagal. Kematian dipastikan siap menjemput mereka dalam waktu dekat. Apa yang sebenarnya terjadi?

Putusan PN Bangkalan bermula pada 17 Mei 2017 silam, ketika Ahmad dan sebut saja Bunga, kekasihnya, remaja 17 tahun paras manis berhijab, sedang menikmati suasana Pantai Rongkang, Desa Kwanyar Barat, Bangkalan.

Sementara itu, di kawasan bukit Pantai Rongkang, lima pemuda masing-masing bernama Muhammad Sohib, Muhammad Jeppar, Muhammad Hajir, Muhammad, dan Muhammad Hayyat, sedang bercengkerama dan bermaksud menjahili siapapun pasangan yang sedang berduaan di Pantai Rongkang. Akhirnya mata mereka mendadak tertambat pada pasangan remaja, Ahmad dan Bunga.

Mereka lantas menghampiri Ahmad dan Bunga. Dan pemuda bernama Muhammad Jeppar mendadak langsung mengeluarkan pisau ke arah keduanya. Pasangan itu digiring ke sebuah gua di tepi tebing yang tersembunyi. Setiba di dalam gua, Jeppar kemudian menarik hijab Bunga, lantas menggunakannya untuk mengikat mulut Ahmad, kekasih gadis remaja tersebut.

Kemudian, pemuda lainnya bernama Muhammad mengeluarkan senjata tajam clurit kemudian mengayun-ayunkannya sambil mengajak rekan-rekannya menghabisi Ahmad agar mudah 'menggarap' Bunga. Sejurus kemudian, ujung clurit diayun kuat menusuk dan mencabik dada Ahmad hingga tewas seketika. Sadar remaja pria itu sudah menemui ajalnya, jenazahnya dibawa lebih ke dalam gua untuk disembunyikan di balik batu dengan keadaan mengenaskan bersimbah darah.

Sesudah menyembunyikan jenazah Ahmad ke dalam gua, lima pemuda itu langsung beramai-ramai menyergap Bunga. Tanpa rasa kemanusiaan, mereka mempreteli satu persatu busana korban, tak mempedulikan teriakan dan isak tangis, lantas memperkosa Bunga bergiliran. Tak kuat menahan perilaku biadab lima pemuda itu, Bunga akhirnya jatuh pingsan. Gerombolan biadab itu kaget!

Kelimanya lantas kebingungan melihat Bunga tak sadarkan diri dengan keadaan tanpa busana. Akhirnya, mereka berlima kembali sepakat membunuh remaja tersebut seperti apa yang mereka lakukan kepada Ahmad, remaja pria kekasih Bunga. Jika Ahmad menjemput ajal dengan dada tertembus clurit, Bunga dicekik dalam keadaan pingsan sampai tewas!

Setelah memastikan Bunga meninggal dunia, para pelaku kembali membawa jasad remaja nahas tersebut ke dalam gua, kemudian disembunyikan jauh di bawah batu karang.

Satu bulan berlalu, dua bulan, tak ada pertanda nasib Ahmad dan Bunga. Sampai pada suatu ketika, seorang pencari kayu bernama Riyono mencium aroma busuk menusuk hidung saat menyusuri perbukitan Pantai Rongkang. Riyono penasaran dan terus mencari sumber bau busuk itu. Betapa terkejut ia ketika menemukan sumber bau busuk ternyata dari dua jasad yang nyaris tinggal tulang belulang saja.

Riyono langsung melaporkan temuannya kepada pihak yang berwajib. Polisi kaget, Kota Bangkalan geger penemuan mayat dua remaja jauh di dalam gua gelap di pinggir pantai. Polisi segera melakukan penyelidikan, hingga akhirnya menemukan identitas kedua korban. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari para saksi sampai orang tua korban, serta bukti-bukti di lapangan, polisi berhasil mengidentifikasi para pelaku.

Satu per satu para pelaku tertangkap. Dan mereka harus mempertanggungjawabkan kebiadaban terencana di Pantai Rongkang kepada Pengadilan Negeri Bangkalan. Masing-masing pelaku diadili dengan berkas terpisah, dengan tersangka bernama Muhammad Sohib menjadi orang terakhir yang dijatuhi vonis.

"Menyatakan terdakwa Moh Sohib bin Asmat Arto bersalah melakukan tindak pidana 'bersama-sama melakukan pembunuhan dengan berencana dan melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati'. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa dengan pidana mati," ucap Ketua Majelis Hakim Susanti Arsi Wibawani, yang didampingi Hakim Anggota, Putu Wahyudi dan Johan Wahyu Hidayat.

Lima pemuda Bangkalan itu lemas seluruhnya karena vonis mati!

Setelah jatuh vonis, pihak keluarga tervonis bernama Mohammad Hayyat alias Mad alias Hayat bin Hosnan mengajukan Kasasi. Namun hasilnya justru menguatkan hukuman mati yang dijatuhkan PN Bangkalan kepada Muhammad Hayyat.

"Menyatakan Terdakwa Mohammad Hayat alias Mad alias Hayat alias Hayat bin Hosnan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana 'turut serta melakukan pembunuhan berencana dan turut serta melakukan kekerasan memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya," ujar Hakim Agung Andi Samsan Nganro, yang didampingi Hakim Anggota Eddy Arm dan Margono.

Negara menganggap sudah selayaknya lima pemuda pemerkosa, pembunuh, yang sangat sadis, biadab, serta di luar perikemanusiaan tersebut menghadapi hukuman mati. Sama seperti ketika korban Ahmad harus menghadapi ajalnya di ujung clurit. Kemudian serupa juga dengan nasib Bunga, yang harus menghadapi derita pemerkosaan dari lima orang, kemudian menjemput kematiannya sekaligus.

Sumber : Babe


[Ikuti Wawasanriau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar