MENU TUTUP

Begini yang Perlu Kita Lakukan Agar Anak Nggak Gampang 'Menghakimi'

Minggu, 10 September 2017 | 12:21:03 WIB
Begini yang Perlu Kita Lakukan Agar Anak Nggak Gampang 'Menghakimi' ilustrasi

Jakarta - Ketika melihat orang yang tampilannya berbeda, bisa jadi beberapa orang langsung menghakimi. Merasa diri paling benar dan yang berbeda itu salah. Gimana ya agar kelak anak nggak tumbuh jadi sosok yang gampang menghakimi tampilan luar orang lain dan tetap cinta damai?

"Katakan pada anak bahwa self identity tidak bisa diwakilkan oleh tampilan luar saja. Misal ketika anak melihat ada perempuan berpakaian tomboi atau lelaki yang tampak gemulai, jelaskan bahwa setiap orang ada alasannya jika mereka berpenampilan seperti itu," tutur psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, saat mengobrol dengan HaiBunda.

Jika menggunakan pendekatan agama, tentu ada hal-hal yang bisa kita sampaikan berdasarkan pandangan masing-masing agama. Tapi jika secara general kita harus jelaskan secara terbuka kepada anak bahwa identitas diri tidak bisa digambarkan dari tampilan luar saja.

"Dari dulu, kita sudah diajarkan bahwa laki-laki harus kuat dan perempuan haruslah mengerjakan pekerjaan perempuan. Misal seperti angkat galon air, rata-rata orang berpikir itu adalah pekerjaan laki-laki tapi sebenarnya perempuan juga bisa melakukan. Kita juga bisa katakan, bahwa secara motorik laki-laki lebih bagus daripada perempuan," sambung Ratih.

Dia menambahkan tidak ada norma umum di masyarakat tentang laki-laki harus tertawa gagah dan perempuan harus lemah gemulai. Juga tidak berarti laki-laki yang klemar-klemer berarti banci. Jika ada yang tampilannya berbeda dari penampilan orang kebanyakan, jangan tunjukkan sikap judgemental kita ya, Bun. Soalnya anak melihat dan meniru apa yang kita lakukan.

Lalu bagaimana jika anak laki-laki kita ingin berambut gondrong seperti tokoh yang dilihatnya di televisi? Perlu dilarang atau dibiarkan? Menurut Ratih, hal itu kembali lagi ke nilai keluarga masing-masing. Sebab boleh tidaknya anak melakukan sesuatu kembali lagi bagaimana pola asuh dan keadaan keluarganya.

"Katakan pada anak jangan menyamaratakan keluarga kita dengan keluarga lain, masing-masing keluarga punya cara didik yang berbeda. Kalau misal kita tidak setuju dengan laki-laki berambut panjang, bisa kita katakan bahwa di keluarga kita tidak ada laki-laki berambut panjang, atau rambut panjang itu bikin gerah atau panas dan merepotkan," papar Ratih.

Untuk setiap hal yang ditanyakan anak, Ratih mewanti-wanti untuk menjelaskan dalam sudut pandang yang netral. Penting banget nih Bun bagi kita untuk tidak menilai sesuatu secara cepat atau hanya menilai dari tampilan luar.

"Karena opini yang orang tua berikan,dapat mempengaruhi cara anak berpikir hingga ia dewasa nanti," imbuhnya. (detik.com)

Berita Terkait

Berjuang Jadi Kuli Demi Calon Istri Kuliah, Pria Ini Ditinggal Nikah. Tak Disangka 3 Tahun Kemudian!

Artis Amel Alvi Akhirnya Akui Jual Diri tanpa Paksaan

Di Indoneaia, Wanita Lebih Sering Selingkuh Dari Pada Pria?

SIKSAAN ORANG TUA KARENA ANAKNYA PACARAN

Di Tuding Jual Lahan Dan Ganti RT Sesuka Hati, Ini Jawaban Penghulu Jumrah

TULIS KOMENTAR
TERPOPULER +
1

DPRD Rohil Gelar Paripurna Raperda Perubahan APBD Tahun 2026

2

Daftar Lengkap 21 Pejabat Pemkab Rohil yang Baru Dilantik Bupati H. Bistamam

3

Polres Rohil tindak tegas Illegalloging di Sinaboi, 2 Tersangka Diamankan, Ratusan Batang Kayu Disit

4

Forum Media Daerah Rohil Resmi Surati DPRD, Desak RDP Soal Anggaran Kerjasama Media

5

Tingkatkan Stok Darah Pasien, PHR dan PMI Rohil Gelar Aksi Kemanusiaan

6

Tanam Pohon Trembesi di Sungai Bakau, Polsek Sinaboi Gencarkan Green Policing

7

Pamit ke Camat dan Pemdes, Mahasiswa KKN STAI Ar-Ridho Akhiri Masa Pengabdian di Sinaboi

8

Media Lokal Rohil Soroti Kemitraan Publikasi, Pemkab dan DPRD Diminta Buka Ruang Dialog

9

Hadir di Malam Puncak Haul ke-80, Dr. Maliki Ikuti Rangkaian Peringatan Syekh Oesman Syahbuddin

10

Malam Puncak Haul ke-80 Syekh Oesman Syahbuddin, Bagansiapiapi Dipadati Jamaah dan Masyarakat