MENU TUTUP

April 1938, di Kabupaten Hexian, Provinsi Anhui, Tiongkok - di tengah berkecamuknya Perang Tiongkok

Senin, 02 Februari 2026 | 09:48:25 WIB
April 1938, di Kabupaten Hexian, Provinsi Anhui, Tiongkok - di tengah berkecamuknya Perang Tiongkok

WawasanRiau.com - Perempuan dalam gambar itu bernama Cheng Benhua. Ia lahir pada tahun 1914 dari keluarga petani di Desa Gaoxiang. Sejak muda, Cheng dikenal memiliki keteguhan yang tidak biasa.

Saat bersekolah menengah, ia mengikuti pelatihan kepemimpinan dan ketahanan hidup bersama Resimen 1194 Scouts of China - pengalaman yang kelak membentuk sikapnya di medan perang.

Ketika Jepang menginvasi Tiongkok pada 1937, Cheng bergabung dengan gerakan perlawanan. Di tahun yang sama, ia bertunangan dengan sesama pejuang, Liu Zhiyi. Namun, Liu gugur dalam pertempuran pada awal 1938, hanya beberapa bulan setelah pertunangan mereka.

Cheng tetap bertempur

Pada April 1938, ia tertangkap oleh pasukan Jepang di wilayah asalnya. Unit tersebut berada di bawah komando Koichi Yamashita, Resimen ke-13 Divisi ke-6 Angkatan Darat Jepang. Selama ditahan, Cheng mengalami penyiksaan berat dan kekerasan seksual oleh para penjaga.

Beberapa hari kemudian, ketika unit itu diperintahkan berpindah posisi, para tawanan diputuskan untuk dieksekusi. Sebagai bentuk tekanan psikologis, Cheng dipaksa menyaksikan sejumlah rekan seperjuangannya dibunuh dengan bayonet—upaya untuk mematahkan kehendaknya dan memaksanya memberikan informasi.

Namun Cheng Benhua tidak menyerah

Saat gilirannya tiba, seorang jurnalis Jepang yang melekat pada unit tersebut mengambil sebuah foto. Dalam gambar itu, Cheng berdiri tenang. Di wajahnya tampak senyum tipis—bukan tanda ketakutan, melainkan keteguhan dan martabat di hadapan kematian yang tak terelakkan. Ia tidak memberikan satu pun informasi kepada para penangkapnya.

Usianya saat itu 24 tahun

Komandan Yamashita, yang memerintahkan eksekusi tersebut, begitu terkesan oleh sikap Cheng hingga ia menyimpan foto itu. Di bagian belakangnya, ia menulis: “Cheng Benhua, usia 24 tahun.” Nama itu ia catat agar tidak pernah hilang dari ingatannya.

Puluhan tahun berlalu

Pada 1992, seorang mahasiswa asal Tiongkok bernama Fang Jun tinggal di Jepang dan bekerja dalam proyek akademik bersama Isamu Kobayashi, veteran Perang Dunia II yang pernah bertugas bersama Yamashita. Dalam upaya menghadapi rasa bersalah atas kejahatan perang di Tiongkok, Yamashita memperlihatkan foto Cheng kepada Fang. Ia mengakui bahwa ekspresi perempuan itu terus menghantuinya selama lebih dari lima dekade.

Foto tersebut akhirnya kembali ke Tiongkok. Pada 2005, gambar itu dipublikasikan oleh sebuah majalah di Provinsi Shandong. Empat tahun kemudian, seorang editor dari majalah di Hexian menelusuri keluarga Cheng dan menemukan Xu Renzhen, kakak iparnya yang saat itu berusia 92 tahun. Xu memastikan bahwa perempuan dalam foto itu memang Cheng Benhua.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 70 tahun, keluarganya mengetahui bagaimana akhir hidup Cheng

Pada 25 Desember 2012, Cheng Naifu, anggota keluarga tertua yang masih hidup, membawa foto berbingkai itu ke aula leluhur keluarga Cheng. Tindakan tersebut menjadi pemakaman simbolis—sebuah penghormatan bagi perempuan yang tak pernah mendapat perpisahan layak.

Hari ini, sebuah patung Cheng Benhua berdiri di Nanjing. Ia dikenang bukan semata sebagai korban perang, melainkan sebagai simbol perlawanan.

Senyum dalam foto itu—diambil pada detik-detik terakhir hidupnya—tetap berbicara lintas generasi: tentang martabat manusia, keberanian, dan keteguhan yang tidak dapat dihancurkan oleh kekerasan apa pun.

Sumber

Media Internasional
BBC, Reuters, Associated Press

Media Nasional / Lokal
Der Spiegel, Die Zeit

Sumber Resmi / Akademik
Arsip sejarah perang Tiongkok–Jepang, publikasi akademik dan dokumentasi universitas terkait sejarah Perang Dunia II di Asia Timur.

Berita Terkait

Tak sadar terdoktrin bahasa alay

Begini yang Perlu Kita Lakukan Agar Anak Nggak Gampang 'Menghakimi'

Kepala BPS RI Resmikan Kantor BPS Rohil

Bupati Rohil Suyatno Tandantangi MOU Dengan STEI Pelita Indonesia

Apa yang Terjadi Pada Otak saat Kita Patah Hati?

TULIS KOMENTAR
TERPOPULER +
1

DPRD Rohil Gelar Paripurna Raperda Perubahan APBD Tahun 2026

2

Daftar Lengkap 21 Pejabat Pemkab Rohil yang Baru Dilantik Bupati H. Bistamam

3

Polres Rohil tindak tegas Illegalloging di Sinaboi, 2 Tersangka Diamankan, Ratusan Batang Kayu Disit

4

Forum Media Daerah Rohil Resmi Surati DPRD, Desak RDP Soal Anggaran Kerjasama Media

5

Tingkatkan Stok Darah Pasien, PHR dan PMI Rohil Gelar Aksi Kemanusiaan

6

Tanam Pohon Trembesi di Sungai Bakau, Polsek Sinaboi Gencarkan Green Policing

7

Pamit ke Camat dan Pemdes, Mahasiswa KKN STAI Ar-Ridho Akhiri Masa Pengabdian di Sinaboi

8

Media Lokal Rohil Soroti Kemitraan Publikasi, Pemkab dan DPRD Diminta Buka Ruang Dialog

9

Hadir di Malam Puncak Haul ke-80, Dr. Maliki Ikuti Rangkaian Peringatan Syekh Oesman Syahbuddin

10

Malam Puncak Haul ke-80 Syekh Oesman Syahbuddin, Bagansiapiapi Dipadati Jamaah dan Masyarakat