Nasional

Harga Daging Naik, Kementan Malah Salahkan Broker

poto ilustrasi

Jakarta, wawasanriau -- Kementerian Pertanian (Kementan) menduga kenaikan harga daging sapi di sejumlah pasar yang terjadi menjelang Lebaran terjadi akibat ulah broker alias pialang. Broker tersebut mereka sebut sengaja mengerek harga di tengah kenaikan permintaan konsumen yang terjadi menjelang Lebaran.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menuturkan pantauan Kementan di 45 titik pasar, harga daging sapi terpantau rata-rata sebesar Rp120 ribu per kilogram (kg). Ia menuturkan harga tersebut mesih terbilang wajar. 

Namun demikian, berdasarkan pantauan harga daging sapi di beberapa pasar melebih harga tersebut. Misalnya, di Pasar Jatinegara, harganya menyentuh Rp130 ribu per kg pada Rabu (29/5). 

"Saya hanya khawatir dengan broker saja, misalnya dia ambilnya harga Rp80 ribu- Rp90 ribu per kg, lalu dia naikkan pas di ritel jadi Rp140 ribu itu. Saya khawatirnya di situ," katanya, Jumat (31/5). 

Ia menyatakan Kementan selalu memantau pergerakan harga komoditas setiap harinya selama Ramadan dan jelang Lebaran. Dalam memantau, pihaknya juga berkoordinasi dengan pengelola pasar terkait pembaharuan data ketersediaan pasokan dan pergerakan harga. 

"Nanti akan kami cek, kami selalu cek harga harian dari 45 titik pasar termasuk tambahan di provinsi yang berpotensi kritis. Kalau kami lihat ada (kekurangan) itu langsung intervensi di situ melalui operasi pasar," imbuhnya. 

Stok Daging Defisit 

Ia mengakui dari sisi ketersediaan, daging mengalami defisit sebesar 50.529 ton. Defisit terjadi karena kebutuhan daging nasional pada Mei-Juni diperkirakan sebesar 123.105 ribu ton.

Sementara itu, ketersediaan daging sapi lokal hanya sebesar 72.576 ton.  Untuk memenuhi kekurangan persediaan daging tersebut, maka Kementan bakal mengupayakan berbagai langkah pemenuhan. 

Kementan akan menyediakan stok sapi dan kerbau siap potong pada Mei sebesar 16.251 ton. Lalu, stok sapi bakalan Juni sebanyak 59.746 ekor atau setara dengan 11.946 ton daging. 

Selain itu, Kementan mencatat masih ada daging sapi di gudang importir sebesar 8.438 ton dan setok jeroan di gudang importir sebesar 1.099 ton. 

Kementan rencananya juga akan memasok daging sapi impor sebesar 11.101 ton dan jeroan sebesar 1.258 ton pada Juni, sehingga totalnya menjadi 12.359 ton daging impor. Sementara itu, stok daging kerbau di Perum Bulog tercatat sebesar 8.333 ton pada Mei. Dengan demikian, total pemenuhan daging sebesar 52.979 ton. 

Dengan perhitungan tersebut, maka diharapkan kebutuhan daging bisa terpenuhi. Bahkan menurutnya, jika langkah tersebut dilakukan pasokan daging mengalami surplus sebesar 2.450 ton pada periode Mei-Juni 2019.

"Stoknya surplus sehingga kondisinya sangat aman menjelang Hari raya Idul Fitri," katanya. 

Tak hanya daging, Kementan juga mengklaim terjadi potensi surplus pada telur ayam. Sebab, kebutuhan telur ayam diprediksi sebesar 326.329 ton, sedangkan ketersediaan telur ayam tercatat sebesar 480.090 ton. 

Ia mengatakan surplus terjadi lantaran pemerintah telah mempersiapkan antisipasi lonjakan permintaan komoditas tersebut jauh-jauh hari. 

"Sebenarnya kami sudah perhitungkan, bulan Mei puasa, sedangkan Lebaran datang pada Juni. Jadi empat bulan sebelumnya kami sudah check in (persiapkan). Jadi tidak ada rumus kurang. Kalau kurang berarti itu ada yang menahan, ada yang main-main," katanya.

sumber : CNN Indonesia


[Ikuti Wawasanriau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar