MENU TUTUP

Kasus Penghinaan Wartawan Oleh Sekda Riau Berlanjut, PETA: Kita Sudah Gelar Bersama Kabah Wassidik

Selasa, 01 Agustus 2023 | 16:54:16 WIB
Kasus Penghinaan Wartawan Oleh Sekda Riau Berlanjut, PETA: Kita Sudah Gelar Bersama Kabah Wassidik

PEKANBARU - Dugaan kasus penghinaan terhadap profesi wartawan dengan terlapor Sekretaris Daerah (Sekda) Riau SF Hariyanto berlanjut, perkembangan hari ini Polda Riau telah menggelar dan menganalisa perkasa tersebut.

"Kami bersama Kabag Wassidik Polda Riau telah menggelar perkara untuk menganalisa perkara yang kami laporkan beberapa bulan lalu," kata Ketua Umum Pers Tanah Air (PETA) Fazar Muhardi selaku pelapor perkara itu di Pekanbaru, Selasa (1/8/2023).

Dalam gelar perkara tertutup tadi, demikian Fazar, Kabag Wassidik Polda Riau AKBP Doktor Azwar telah menyampaikan hasil analisa penyidik dengan kesimpulan-kesimpulan yang cukup memuaskan.

"Besar kemungkinan kasus ini akan berlanjut. Namun kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya nanti bagaimana. Yang jelas, upaya saya ini adalah untuk menjaga martabat profesi kita, jangan ada pihak-pihak yang sembarangan merendahkan wartawan," kata Fazar.

Perkara yang menyeret Sekda Riau SF Hariyanto itu menurut Fazar merupakan penghinaan profesi wartawan yang sangat serius dan harus dikawal tuntas.

"Barang bukti sudah kita serahkan, tinggal nanti bagaimana Polda menyelidiki dan menyidik kasus tersebut yang juga harus sama-sama kita kawal," katanya.

Sebelumnya, setelah kasus viral 'hedonisme' isteri dan anaknya, Sekretaris Daerah (Sekda) Riau SF Hariyanto kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial yang dianggap telah menghina dan merendahkan derajat sosial profesi wartawan.

"Dalam video berdurasi kurang dari 1 menit yang beredar di sejumlah media sosial, SF Hariyanto mengungkap klarifikasi atas gaya hidup isterinya yang kerap menggunakan barang-barang mahal. Namun dalam klarifikasinya itu, dia turut menyinggung, melukai dan menghina wartawan," kata Ketua Umum Pers Tanah Air (PETA) Fazar Muhardi.

Menurut Fazar, dalam video singkat yang beredar diberbagai media sosial itu, SF Hariyanto mengungkap persepsi publik terkait profesi wartawan yang terkesan murahan.

"Dia seperti menyepelekan profesi wartawan, seakan-akan wartawan merupakan profesi miskin yang tidak memiliki nilai," kata Fazar.

Dalam video singkat tersebut SF Hariyanto mengungkap hidup mewah isterinya adalah 'hedon palsu' karena semua yang dikenakan merupakan barang-barang palsu (KW).

"Karena gantungannya (tas) itu bagus ya orang tidak ada yang menilai bahwa itu palsu atau tidak palsu. Tapi kalau kawan-kawan wartawan pun pakai (tas) yang asli pun, pasti orang-orang tidak akan percaya kalau itu asli," kata SF Hariyanto dalam video itu.

"Tapi kalau isteri saya pakai yang palsu, pasti orang akan tetap bilang itu (tas) yang asli. Ya itulah, mungkin gantungannya itu yang bagus, tapi ya sudahlah," sambung SF Hariyanto dalam video singkat tersebut.

Ketum PETA Fazar Muhardi menganggap pernyataan SF Hariyanto merupakan ungkapan yang telah menghina sekaligus merendahkan derajat wartawan Indonesia.

"Secara pribadi saya menuntut Sekda Riau SF Hariyanto untuk meminta maaf dalam tempo yang sesingkat-singkatnya," katanya.

Fazar menjelaskan, pers itu bukan pekerjaan atau manusia hina dan bukan juga pekerjaan rendahan.

"Profesi wartawan memiliki standar kecerdasan, standar pendidikan, dan juga standar penghasilan," katanya.

Fazar menjelaskan, bahwa wartawan memiliki tugas yang sangat mulia, bahkan tidak sedikit wartawan yang jauh lebih berhasil dari pada sekadar jabatan sekda atau gubernur.

Harus diketahui, lanjutnya, tidak sedikit wartawan dengan penguasaan ilmunya, kemudian mereka mampu bersaing di luar negeri.

Bahkan di dalam negeri ini, kata Fazar, tidak terhitung jumlah wartawan yang telah berhasil menjadi orang-orang perpengaruh.

Sebut saja Muhammad Yamin, wartawan yang kemudian dikenal sebagai sastrawan, politisi, pakar hukum, serta pengamat sejarah.

Kemudian, lanjut Fazar, siapa yang tidak kenal dengan Wakil Presiden RI pertama Mohammad Hatta, beliau adalah seorang wartawan pada zamannya.

"Lalu apakah seorang Sekda Riau juga tidak kenal dengan Ki Hajar Dewantara, Adam Malik, Tan Malaka serta Tirtoadisuryo. Mereka semua adalah pahlawan bangsa yang lahir dari 'rahim' pers. Kami adalah pejuang demokrasi yang tak pantas dihina dan direndahkan," katanya.

Menurut Fazar, seorang sekelas sekda harusnya memiliki etika dan moral yang baik, jangan asal keluar omongan tanpa dipikirkan dampak dan akibatnya.

Seperti ungkapan Profesor JE Sahetapy, demikian Fazar, pejabat itu harusnya berbicara tidak seperti ayam tanpa kepala. (Rilis)

Berita Terkait

Fuel for Humanity PHR, Polsek Bangko Pusako Ikut Donor Darah

Peringati HPN, Forum Pimpinan Redaksi SMSI dan LBH Gelar Diskusi

Tingkatkan Silaturahmi, Pengurus TP PKK Rohil Gelar Halal Bi Halal

Dok Kapal Bagansiapiapi Terancam Tutup, Ribuan Buruh Bakal Ngangur

Cegah Bencana Kebakaran, Kodim 0321 Rohil Gelar Doa Bersama

TULIS KOMENTAR
TERPOPULER +
1

Polres Rohil Perkuat Integritas dan Nasionalisme Lewat Ngaji Kebangsaan

2

DPRD Rohil Gelar Paripurna Raperda Perubahan APBD Tahun 2026

3

Daftar Lengkap 21 Pejabat Pemkab Rohil yang Baru Dilantik Bupati H. Bistamam

4

Polres Rohil tindak tegas Illegalloging di Sinaboi, 2 Tersangka Diamankan, Ratusan Batang Kayu Disit

5

Forum Media Daerah Rohil Resmi Surati DPRD, Desak RDP Soal Anggaran Kerjasama Media

6

Tingkatkan Stok Darah Pasien, PHR dan PMI Rohil Gelar Aksi Kemanusiaan

7

Tanam Pohon Trembesi di Sungai Bakau, Polsek Sinaboi Gencarkan Green Policing

8

Pamit ke Camat dan Pemdes, Mahasiswa KKN STAI Ar-Ridho Akhiri Masa Pengabdian di Sinaboi

9

Media Lokal Rohil Soroti Kemitraan Publikasi, Pemkab dan DPRD Diminta Buka Ruang Dialog

10

Hadir di Malam Puncak Haul ke-80, Dr. Maliki Ikuti Rangkaian Peringatan Syekh Oesman Syahbuddin