
Wawasanriau.com - Namanya Farel, baru 16 tahun. Di usianya yang seharusnya dipenuhi tawa, ia justru lebih akr4b dengan lelah dan sepi.
Sejak kecil, hidupnya sudah mengajarkannya arti kehilangan . Ibunya pergi untuk selamanya saat ia masih berusia 7 tahun—usia ketika seorang anak masih butuh pelukan sebelum tidur.
Empat tahun kemudian, ayahnya pun menyusvl. Di umur 11 tahun, Farel benar-benar sendirian. Tidak ada lagi tempat bermanja, tidak ada lagi suara yang memanggil namanya dengan penuh kasih.
Kini ia hanya menump4n9 di rumah saudara jauhnya. Bukan karena ingin, tetapi karena hidvp memaksanya begitu. Ia sadar, dirinya hanyalah titipan. Maka ia memilih untuk tidak banyak meminta.
Sepulang sekolah, ketika teman-teman sebayanya beristirahat atau bermain, Farel justru berjalan menyusvri jalanan membawa term0/ dan gelas-gelas k0pi di tangannya.
Dengan seragam yang masih melek4t di tubvhnya, ia menawarkan secangkir kopi seharga tiga ribu rupiah.
Tiga ribu rupiah—angka yang mungkin terasa kecil bagi sebagian orang, namun bagi Farel, itu adalah harapan untuk bisa tetap sekolah esok hari.
Penghasilannya tak pernah pasti. Kadang habis terjual, kadang ia pulang dengan langkah lebih berat karena dagangannya masih tersisa. Namun tak pernah terdengar ia mengelvh. Sor0t matanya mungkin lelah , tapi di dalamnya ada tekad yang tak mau kalah.
Di usia yang masih belia, ia belajar menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia belajar berdiri tegak di tengah kehilangan . Ia belajar kuat meski hatinya pernah hancur.
Farel adalah bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Bahwa anak yatim piatu pun bisa menyimpan mimpi yang tinggi. Bahwa dari tangan yang lelah itu, ada doa-doa yang tak pernah putvs dipanjatkan kepada langit.
Semoga setiap langkah kecilnya diganti Allah dengan jalan yang lebih luas.
Semoga setiap tetes keringatnya menjadi saksi perjuangan yang kelak berbuah manis.
Semoga rezekinya dilap4n9kan, hatinya dijaga tetap rendah hati, dan mimpinya satu per satu dipelvk oleh takdir yang indah.
Aamiin ya Allah...