Nasional

Harga Minyak Anjlok, Indonesia Harus Lakukan Ini

ilustrasi

JAKARTA - Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menyampaikan strategi apa yang bisa dilakukan ketika harga minyak turun melemahkan kegiatan industri minyak dan gas (Migas) di mancanegara termasuk Indonesia.

Dewan Pakar IATMI Benny Lubiantara mengatakan menjaga industri migas tetap aktif di Indonesia, harus ada kewajiban menumpuk stok minimum 90 hari stok net impor. Pemerintah, harus lakukan hal ini, guna menstabilkan kegiatan usaha ketika harga minya semakin turun.

"Jika di negara-negara maju, fiscal balancing ada kewajiban menumpuk stok. Hal ini berpengaruh ketika supply besar dibandingkan demand. Jadi minimum 90 hari stok net impor tersedia,"jelas Benny dalam diskusi "Luncheon Talk", di Wisma Mulia, Jakarta, Rabu (13/1/2016).

Menurutnya, jika adanya cadangan minyak yang mencukupi, terjadinya penurunan harga minyak pun tidak akan terlalu berdampak.

Dengan kecukupan cadangan minyak pun, Benny menambahkan, adanya dampak positif lainnya yang akan terjadi pun akan banyak investor yang masuk. Artinya, banyak pasar akan banyak keuntungan bagi Indonesia.

"Tapi kalau demand lebih besar dari supply, sudah dipastikan invesntor akan turun. Jadi bukan harga minyak yang menentukan dampak baik Indonesia. Tapi langkah dan strateginya harus mulai ditetapkan," paparnya.

Benny mencontohkan, Amerika Serikat (AS) yang telah memprediksi adanya naik turun harga minyak. AS pun langsung meningkatkan cadangan minyaknya hingga 20 miliar barel atau lima kali lipat cadangan Indonesia yang hanya 4 miliar barel.

"Artinya apa, Amerika prediksi sejak 2006 harga minyak turun, kemudian 2014 harga minyak naik. Jadi mereka lebih stabil dengan cadangan yang dimilikinya. Jika dibandingkan dengan kita, malah terus turun produksi industri migas,"ujarnya.

(okezone.com)


[Ikuti Wawasanriau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar