Advertorial

Kerja Keras Bapak Visioner Suyatno, Rohil Gandeng Investor Membangun Negri

Selasa, 14 November 2017 | 19:42:37 WIB
Kerja Keras Bapak Visioner Suyatno, Rohil Gandeng Investor Membangun Negrii Foto: Bupati RohilH Suyatno

WAWASANRIAU.COM - Luarbiasa dalam dalam waktu dekat masyarakat Riau umunya dan terkhusus Kabupaten Rokan Hilir bakal menikmati penerangan listrik yang dibangun menggunakan limbah sawit.

Hal itu dilakukan Bupati Rohil H Syatno dengan menggandeg investor asing asal jepang  guna pembangunan daerah.

Tak terlepas juga dari dukungan Gubernur Riau (Gubri) Arsyad Juliandi Rahman serta kerja keras guna mewujudkan visi misi Bupati Rokan Hilir periode 2016 -2021.

Bersama Bupati Rohil H Suyatno, ia terlibat pembahasan limbah sawit dengan Investor asal Jepang menjurus pada kerjasama mendirikan perusahaan listrik dipovinsi Riau.

Dalam kesempatan terpisah, ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (06/11/2017). Bupati H. Suyatno berharap agar investor tersebut bisa melakukan kajian menyeluruh bersama pemerintah daerah dan serius dalam maksud dan tujuannya karena di Rohil banyak pabrik kelapa sawit yg limbahnya bisa diberdayakan.

Apalagi Gubernur Riau telah menyatakan siap untuk memfasilitasinya. "Kalau potensi Sawit kita sangat besar, jadi peluang ini tentunya akan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya sejalan dengan program Pemkab Rohil salah satunya dalam Visi Rohil saat ini," kata Bupati.

Dijelaskan juga bahwa potensi kelapa sawit di Provinsi Riau secara nasional menempati posisi teratas. Sedangkan terkait tata letak pemetaan ada Tanjung Buton, Siak dan transportasi yang bisa dilewati di sana serta Rohil yang merupakan daerah Sawit terbesar di Riau.

"Riau ini berdekatan dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Jadi jarak antara Tanjung Buton kalau melalu jalur laut tidak terlalu jauh,"jelasnya.

Perusahaan Hilirisasi kelapa sawit asal Jepang, Kao akan menanamkan modal mencapai US$90 juta atau Rp1,2 triliun untuk mendirikan pabrik fatty acid di Dumai, Riau.

Investasi itu akan berbentuk joint venture atau usaha patungan dengan badan usaha milik swasta nasional dan total dana ini juga termasuk untuk di Rohil dan Kabupaten lainnya sebagai pemanfaatna limbah Sawit jadi Listrik.

Menurut Pejabat Promosi Investasi Center (IIPC) di Tokyo Jepang Saribua Siahaan, kerja sama tersebut rencananya mulai berjalan tahun ini di mana porsi kepemilikan saham perusahaan Indonesia 65 persen dan perusahaan Jepang 35 persen.

"Pabrik tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada 2019 di lahan seluas 44 ribu meter per segi di Dumai dengan kapasitas sebesar 100 ribu ton per tahun," ujar Saribua.

Saribua mengatakan perusahaan joint venture itu akan memproduksi fatty acid, bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai jenis produk seperti, detergen, sampo, dan pembersih muka.

Sehingga diharapakan akan mendongkrak kapasitas produksi fatty acid Kao sebesar 130 persen dan meningkatkan porsi pasokan fatty acid internal perusahaan hingga 60 persen.

"Pabrik yang di Indonesia akan menyediakan kebutuhan bahan baku untuk pabrik produk konsumer Kao di Thailand, Indonesia dan Vietnam," tuturnya.

Pertemuan Kamis lalu juga lanjutan tentang rencana ini sehingga bisa terealisasi dengan cepat dengan pengkajian yang mendalam.

Sementara itu, Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) melalui IIPC Tokyo secara aktif memfasilitasi perusahaan dalam mengajukan perizinan ke BKPM melalui fasilitas Investasi Izin Tiga Jam dan juga akan terus mendukung serta membantu perusahaan sampai proyek ini mencapai commercial stages.

Pemerintah menyambut baik rencana investasi investor Jepang di sektor industri penghiliran crude palm oil (CPO) di Indonesia, di mana potensi industri manufaktur berbasis CPO di Tanah Air masih sangat besar, karena kebutuhan bahan baku industri makanan dan produk konsumer terus meningkat.

Dukungan atas proses penghiliran industri CPO juga diberikan lewat pengembangan kawasan industri berbasis CPO, termasuk Dumai.

Pemerintah menerapkan disinsentif bea keluar bagi produk CPO yang tarifnya semakin rendah semakin besar nilai tambah yang diberikan dalam proses produksi di Indonesia.*Advertorial Pemkab

Tulis Komentar